Friday, 1 January 2010

SEJARAH LANGKAT

* * SEJARAH LANGKAT * *


Nama Resmi : Kabupaten Langkat
Ibukota : Stabat
Luas Wilayah: 6.272 km²
Jumlah Penduduk:  902.986 jiwa (2000)
Wilayah Administrasi:Kecamatan : 13
Kepala Pemerintahan : Bupati Dan Wakil Bupati
Alamat Kantor: Jl. T. Amir Hamzah No.1 Stabat


Darul Aman Saat Banjir, Tanjung Pura 1921













Langkat sebelumnya merupakan bawahan Kesultanan Aceh  sampai awal abad 19, wilayahnya terbentang antara aliran Sungai Seruwai atau daerah Tamiang sampai ke daerah aliran anak Sungai Wampu. Terdapat sebuah sungai lainnya di antara kedua sungai ini yaitu Sungai Batang Serangan yang merupakan jalur pusat kegiatan nelayan dan perdagangan penduduk setempat dengan luar negeri terutama ke Penang/Malaysia. Sungai Batang Serangan ketika bertemu dengan Sungai Wampu, namanya kemudian menjadi Sungai Langkat. Kedua sungai tersebut masing-masing bermuara di Kuala langkat dan Tapak Kuda.

Jalan di sekitar Istana Sultan Langkat, Tanjung Pura Tahun 1734
Jalan di sekitar Istana Sultan Langkat, Tanjung Pura
Tahun 1734
Adapun kata “Langkat” yang kemudian menjadi nama daerah ini berasal dari nama sejenis pohon yang dikenal oleh penduduk Melayu setempat dengan sebutan “pohon langkat”. Dahulu kala pohon langkat banyak tumbuh di sekitar Sungai Langkat tersebut. Jenis pohon ini sekarang sudah langka dan hanya dijumpai di hutan-hutan pedalaman daerah Langkat. Pohon ini menyerupai pohon langsat, tetapi rasa buahnya pahit dan kelat. Oleh karena pusat kerajaan Langkat berada di sekitar Sungai Langkat, maka kerajaan ini akhirnya populer dengan nama Kerajaan Langkat.

Kerajaan Langkat didirikan oleh Dewa Syahdan Sampai saat ini asal usulnya masih menjadi sesuatu yang bervariasi. Satu pendapat mengatakan, ia lahir di tengah hutan belantara dan dibesarkan di Kuta Buluh (dekat kaki gunung Sibayak) Kira-kira hidup pada tahun 1500 sampai 1580 masehi. Versi yang lain menyebutkan bahwa Dewa Sahdan adalah putra kerajaan Haru yang dibungkus oleh istri raja, lalu diletakkan di bawah pohon buluh (bambu) di kerajaan Kutabuluh. Ada juga yang menyebutnya sebagai saudara dari Putri Hijau, yang kemudian mendirikan kerajaan Aru pertama di Besitang.

Kerajaan Aru atau Haru menurut T.Lukman Sinar adalah kerajaan Islam yang telah berdiri pada pertengahan abad ke-13. Wilayah kekuasaaannya meliputi antara Tamiang (Aceh Timur) hingga Rokan (Propinsi Riau). Ini dibuktikan dengan catatan dari Tiongkok ketika Haru mengirimkan misi ke Tiongkok Pada tahun 1282 M. Begitu juga dalam kronik “Nagarakertagama” karangan Mpu Prapanca, ada di sebutkan kata “Kampe” (kampai) dan “Harw” atau Haru.Kerajaan ini diislamkan bersamaan dengan Samudera Pasai dan Fansur (Barus sekarang).

Dewa Sahdan pada mulanya berasal dari kerajaan Aru di Besitang yang kemudian diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Aceh, Setelah kerajaan ini musnah, ia kemudian lari menyelamatkan diri dan mendirikan kerajaan Aru II di Deli Tua kerajaan ini juga kemudian dihancurkan oleh Aceh yang dipimpin oleh panglima Gocah Pahlawan sekitar tahun 1612. Puing-puing peninggalan kerajaan Aru II ini dibangun kembali dan merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Deli, dimana raja pertamanya adalah panglima perang Aceh tersebut, yaitu Gocah Pahlawan. Ketika itu kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda sedang meluaskan daerah kekuasaannya ke wilayah sumatera timur. Setelah kalah dari Aceh Darussalam, Dewa Sahdan kembali menyelamatkan diri dan berhasil membangun kerajaan baru di Kota Rantang di daerah Hamparan Perak, dari keturunan kerajaan inilah kerajaan Langkat berdiri. Pendiri kerajaan Langkat yang dikenal adalah Raja Kahar pada pertengahan abad ke-18. Raja Kahar lahir tahun 1673-1750. Penjelasan T. Lukman Sinar, bahwa Raja Kahar ketika mendirikan Kerajaan Langkat di Kota Dalam (kecamatan Hinai), usianya sudah cukup tua kira-kira 77 tahun. Jadi, Raja Kahar diperkirakan hanya sebentar saja memerintah Langkat. Putra Raja Kahar yang bernama Baduzzaman berhasil memperluas Kerajaan Langkat. Raja Baduzzaman mempunyai empat putra, yaitu Kejeruan Tuah Hitam, Raja Wan Jabar (Selesai), Raja Syakban (Pungai), dan Raja Indera Bungsu yang berdiam di Kota Dalam. Keempatnya memerintah dengan otonomi luas di bawah pimpinan Kejeruan Tuah Hitam sampai abad ke-19. Sejak tahun 1780 Langkat sudah diduduki Siak. Untuk menjamin kesetiaannya, putra Kerajaan Hitam yang bernama Nobatsyah dan putra Indra Bungsu yang bernama Raja Ahmad dibawa ke Siak dan masing-masing dinikahkan dengan putri Siak, yaitu Tengku Fatimah dan Tengku Kanah. Raja Ahmad mempunyai seorang putra yang bernama Tengku Musa. Pada awal abad ke-19 Nobatsyah dan Raja Ahmad kembali ke Langkat untuk memegang pemerintahan dan masing-masing bergelar Raja Bendahara Kejeruan Jepura Bilad Jentera Malai dan Kejeruan Muda Wallah Jepura Bilad Langkat. Sejak itu, nama Langkat sebagai sebuah kerajaan mulai terdengar walaupun daerah kekuasaannya masih belum begitu luas dan pusat kerajaan masih berpindah-pindah   Menurut John Anderson yang sempat berkunjung ke Langkat pada tahun 1823, beberapa tahun kemudian terjadi perang saudara di antara mereka. Kedua raja itu tewas terkena racun. Raja Langkat digantikan oleh Tengku Pangeran Musa dari Siak. Baru setelah sultan Musa berkuasa inilah pusat kerajaan Langkat resmi berada di kota Tanjung Pura, ia secara damai meluaskan wilayahnya, sehingga wilayah kekuasaan Langkat bertambah luas mulai dari perbatasan Aceh Tamiang sampai di kawasan Binjai dan Bahorok. Berkaitan dengan data-data yang di dapatkan bahwa makalah ini akan lebih berfokus pada pemerintahan sultan Musa di Tanjung Pura, yang diteruskan oleh sultan Abdul Azis dan sultan Mahmud hingga berakhirnya kekuasaan kerajaan Langkat pada tahun 1946. 

Adapun Silsilah Kerajaan Langkat adalah: Dewa Sahdan lahir tahun 1500-1580 di Kuta Buluh, Dewa Sakti lahir tahun 1580-1612 dan Wafat pada perang Aceh, Raja Abdullah atau Marhum Guri lahir tahun 1612-1673, Raja Kahar lahir tahun 1673-1750 berkuasa di kota Dalam Secanggang, Badiulzaman bekuasa tahun 1750-1814, Kejeruan Tuah Hitam berkuasa tahun 1814-1823, Raja Ahmad berkuasa tahun 1824-1870, Sultan Musa berkuasa tahun 1870-1896 di Tanjung Pura, Sultan Abdul Aziz berkuasa tahun 1896-1926 di Tanjung Pura, Sultan Mahmud berkuasa tahun 1926-1946 di Binjai.

Sebelum Jepang masuk, Sultan Mahmud pernah mencoba untuk menyatukan kembali kekuatan Kerajaan Langkat. Diantaranya yang ia lakukan adalah ia ingin menikahkan cucu Tengku Hamzah yang merupakan anak Tengku Pangeran Adil, Yaitu Tengku Amir Hamzah, dengan anak kandungnya sendiri, Tengku Kamaliah. Namun saat itu, Amir Hamzah ternyata sudah memiliki kekasih seorang Jawa. sedangkan adik perempuan Sultan Mahmud ia nikahkan pula dengan putra mahkota Kesultanan Selangor, Malaysia kini, yakni Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah Alhaj Ibni Sultan Hasanuddin Alam Syah.

Amir Hamzah kala itu sedang berada di Jawa dan Jakarta untuk bersekolah sembari melakukan gerakan-gerakan melawan kolonialisme dan sedang bergulat dengan gagasan keindonesiaan. Karena panggilan Sultan, pada 1937 ia pun pulang. Ia diberi jabatan Raja Muda atau Pangeran dengan wilayah tugas Langkat Hilir yang berkedudukan di Tanjung Pura dan berkantor di Balai Kerapatan, gedung Museum Kabupaten Langkat kini.

Setelah itu, sejumlah jabatan dibebankan pada Amir Hamzah. Ia memimpin Teluk Haru di Pangkalan Brandan, kemudian ditarik ke Istana sebagai Bendahara Paduka Raja di Binjai, lalu memimpin Langkat Hulu, juga di Binjai. Pada masa Jepang, ia juga menjadi Ketua Pengadilan Kerapatan Kerajaan Langkat.

Sewaktu Soekarno-Hatta menyatakan proklamasi Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta, kabar itu belum sampai ke Kerajaan Langkat. Tapi tak lama kemudian, suasana mulai memanas. Laskar-laskar terbentuk. Dan pada 5 Oktober 1945, Sultan Mahmud kemudian menyatakan penggabungan negaranya dengan negara Republik Indonesia.

Pada 29 Oktober 1945, Tengku Amir Hamzah diangkat menjadi Asisten Residen (Bupati) Langkat dan berkedudukan di Binjai oleh Gubernur Sumatera, Mr. TM. Hasan.
Pada masa itu, Kerajaan Langkat seperti ibu yang hamil tua. Seperti akan ada yang terjadi. Di satu sisi, Langkat adalah negara yang punya hubungan dengan Kerajaan Belanda. Tapi di sisi lain, laskar-laskar yang mulai bermunculan amat membenci Belanda. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa laskar-laskar itu adalah buruh-buruh pendatang, yang diorganisasikan oleh kaum komunis di Jawa, yang tak senang pada kerajaan.

Gesekan dan perang dingin antara Kerajaan Langkat dengan laskar-laskar terus terjadi. Di sini, sosok Amir Hamzah adalah simbol terbaik mengenai terjepitnya batin manusia Langkat diantara dua identitas. “… Tenggelam dalam malam/ Air di atas menindih keras/ Bumi di bawah menolak ke atas” adalah salah satu bait dari puisi Amir, “Hanyut Aku”, yang dapat dibaca dalam konteks ini.

Meski demikian, Amir menegaskan pernyataan yang amat terkenal:
“Lari dari Binjai patik pantang. Patik adalah keturunan Panglima, kalah di gelanggang sudah biasa. Dari dahulu patik merasa tiada bersalah kepada siapa. Jadi salah besar dan tidak handalan, kalau patik melarikan diri ke kamp NICA di Medan. Sejak Sumpah Pemuda, patik ingin merdeka.”

Namun ketegangan memuncak pada 3 Maret 1946. Sore itu, Amir Hamzah beserta seluruh pembesar kerajaan diculik. Amir dibawa ke berbagai tempat untuk kemudian dipancung oleh Mandor Yang Wijaya, orang yang pernah mengabdikan diri di Istana Kerajaan Langkat. Akan tetapi, Sultan Mahmud tak turut dibunuh. Ia ditangkap dan diasingkan hingga kemudian wafat karena sakit.

Penculikan dan pembunuhan para pimpinan negara ini membuat suasana mencekam. Revolusi sosial merebak. Ribuan orang eksodus ke berbagai tempat, secara sendiri-sendiri, per keluarga, maupun rombongan. Ada yang ke Kutacane (Aceh), Lau Sigala-gala (Tanah Karo, Kabupaten Aceh Tenggara kini), Medan (Sumatera Utara kini), atau ke tempat-tempat yang dekat, seperti Bahorok.

Tak lama kemudian, 30 Juli 1947, dua buah istana di Tanjung Pura dan satu buah istana di Binjai dihancurkan oleh massa. Istana-istana Kerajaan Langkat rata dengan tanah. Riwayat pun usai. Roboh bersimbah darah. Di pertengahan abad 20, ahli waris Kerajaan Aru itu pun harus tersungkur. 

Tentang asal mula Kerajaan Langkat berdasarkan tambo Langkat mengatakan bahwa nama leluhur dinasti Langkat yang terjauh diketahui ialah Dewa Syahdan yang hidup kira-kira tahun 1500 sampai 1580. berikut daftar nama raja-raja langkat :
  • 1568-1580 : Panglima Dewa Shahdan
  • 1580-1612 : Panglima Dewa Sakti, anak raja sebelumnya
  • 1612-1673 : Raja Kahar bin Panglima Dewa Sakdi, anak raja sebelumnya
  • 1673-1750 : Bendahara Raja Badiuzzaman bin Raja Kahar, anak raja sebelumnya
  • 1750-1818 : Raja Kejuruan Hitam (Tuah Hitam) bin Bendahara Raja Badiuzzaman, anak raja sebelumnya
  • 1818-1840 : Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu, keponakan raja sebelumnya
  • 1840-1893 : Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) bin Raja Ahmad, anak raja sebelumnya
  • 1893-1927 : Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Haji Musa, anak raja sebelumnya
  • 1927-1948 : Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Abdul Aziz, anak raja sebelumnya
  • 1948-1990 : Tengku Atha’ar bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, anak raja sebelumnya, sebagai pemimpin keluarga kerajaan
  • 1990-1999 : Tengku Mustafa Kamal Pasha bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, saudara raja sebelumnya
  • 1999-2001 : Tengku Dr Herman Shah bin Tengku Kamil, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
  • 2001-2003 : Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Murad Aziz, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah, gelar Sultan dipakai kembali
  • 2003- : Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Maimun, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
Berpedoman kepada tradisi dan kebiasaan masyarakat Melayu Langkat, maka dapatlah ditetapkan kapan Raja Kahar mendirikan Kota Dalam yang merupakan cikal bakal Kerajaan Langkat kemudian hari. Setelah menelusuri beberapa sumber dan dilakukan perhitungan, maka Raja Kahar mendirikan kerajaannya bertepatan tanggal 12 Rabiul Awal 1163 H, atau tanggal 17 Januari 1750. Melalui seminar yang berlangsung di Stabat, pada tanggal 20 Juli 1994 atas kerjasama Tim Pemkab Langkat dengan sejumlah pakar dari jurusan sejarah Fakultas Sastra/Ilmu Budaya USU, maka dapat menentukan Hari Jadi Kabupaten Langkat yaitu 17 Januari 1750.
Pada masa Pemerintahan Belanda, Kabupaten Langkat masih berstatus keresidenan dan kesultanan (kerajaan) dengan pimpinan pemerintahan yang disebut Residen dan berkedudukan di Binjai dengan Residennya Morry Agesten. Residen mempunyai wewenang mendampingi Sultan Langkat di bidang orang-orang asing saja sedangkan bagi orang-orang asli (pribumi) berada di tangan pemerintahan kesultanan Langkat. Kesultanan Langkat berturut-turut dijabat oleh :
  1. Sultan Haji Musa Almahadamsyah 1865-1892
  2. Sultan Tengku Abdul Aziz Abdul Jalik Rakhmatsyah 1893-1927
  3. Sultan Mahmud 1927-1945/46
Dibawah pemerintahan Kesultanan dan Assisten Residen struktur pemerintahan disebut LUHAK dan dibawah luhak disebut Kejuruan (Raja kecil) dan Distrik, secara berjenjang disebut Penghulu Balai (Raja kecil Karo) yang berada didesa. Pemerintahan luhak dipimpin seorang Pangeran, Pemerintahan Kejuruan dipimpin seorang Datuk, Pemerintahan Distrik dipimpin seorang kepala Distrik, dan untuk jabatan kepala kejuruan/Datuk harus dipegang oleh penduduk asli yang pernah menjadi raja di daerahnya.
Pemerintahan Kesultanan di Langkat dibagi atas 3 (tiga) kepala Luhak
  1. Luhak Langkat Hulu, yang berkedudukan di Binjai dipimpin oleh T.Pangeran Adil. Wilayah ini terdiri dari 3 Kejuruan dan 2 Distrik yaitu :
    • Kejuruan Selesai
    • Kejuruan Bahorok
    • Kejuruan Sei Bingai
    • Distrik Kwala
    • Distrik Salapian
  2. Luhak Langkat Hilir, yang berkedudukan di Tanjung Pura dipimpin oleh Pangeran Tengku Jambak/T.Pangeran Ahmad. Wilayah ini mempunyai 2 kejuruan dan 4 distrik yaitu :
    • Kejuruan Stabat
    • Kejuruan Bingei
    • Distrik Secanggang
    • Distrik Padang Tualang
    • Distrik Cempa
    • Distrik Pantai Cermin
  3. Luhak Teluk Haru, berkedudukan di Pangkalan Berandan dipimpin oleh Pangeran Tumenggung (Tengku Djakfar). Wilayah ini terdiri dari satu kejuruan dan dua distrik.
    • Kejuruan Besitang meliputi Langkat Tamiang dan Salahaji.
    • Distrik Pulau Kampai
    • Distrik Sei Lepan

Awal 1942, kekuasaan pemerintah Kolonial Belanda beralih ke Pemerintahan jepang, namun sistem pemerintahan tidak mengalami perubahan, hanya sebutan Keresidenan berubah menjadi SYU, yang dipimpin oleh Syucokan. Afdeling diganti dengan Bunsyu dipimpin oleh Bunsyuco Kekuasaan Jepang ini berakhir pada saat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17-08-1945.
Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Sumatera dipimpin oleh seorang Gubernur yaitu Mr.T.M.Hasan, sedangkan Kabupaten Langkat tetap dengan status keresidenan dengan asisten residennya atau kepala pemerintahannya dijabat oleh Tengku Amir Hamzah, yang kemudian diganti oleh Adnan Nur Lubis dengan sebutan Bupati.

Pada tahun 1947-1949, terjadi agresi militer Belanda I, dan II, dan Kabupaten Langkat terbagi dua, yaitu Pemerintahan Negara Sumatera Timur (NST) yang berkedudukan di Binjai dengan kepala Pemerintahannya Wan Umaruddin dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedudukan di Pangkalan Berandan, dipimpin oleh Tengku Ubaidulah.
Berdasarkan PP No.7 Tahun 1956 secara administratif Kabupaten Langkat menjadi daerah otonom yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri dengan kepala daerahnya (Bupati) Netap Bukit.
Mengingat luas Kabupaten Langkat, maka Kabupaten Langkat dibagi menjadi 3 (tiga) kewedanan yaitu :
  1. Kewedanan Langkat Hulu berkedudukan di Binjai
  2. Kewedanan Langkat Hilir berkedudukan di Tanjung Pura
  3. Kewedanan Teluk Haru berkedudukan di Pangkalan Berandan.
Pada tahun 1963 wilayah kewedanan dihapus sedangkan tugas-tugas administrasi pemerintahan langsung dibawah Bupati serta Assiten Wedana (Camat) sebagai perangkat akhir.
Pada tahun 1965-1966 jabatan Bupati Kdh. Tingkat II Langkat dipegang oleh seorang Care Taher (Pak Wongso) dan selanjutnya oleh Sutikno yang pada waktu itu sebagai Dan Dim 0202 Langkat. Dan secara berturut-turut jabatan Bupati Kdh. Tingkat II Langkat dijabat oleh:
  1. T. Ismail Aswhin 1967 – 1974
  2. HM. Iscad Idris 1974 – 1979
  3. R. Mulyadi 1979 – 1984
  4. H. Marzuki Erman 1984 – 1989
  5. H. Zulfirman Siregar 1989 – 1994
  6. Drs. H. Zulkifli Harahap 1994 – 1998
  7. H. Abdul Wahab Dalimunthe, SH 3-9-1998 s/d 20-2-1999
  8. H. Syamsul Arifin, SE 1999-2009
  9. Ngogesa Sitepu : 2009 s/d sekarang
Motto : ”Bersatu Sekata Berpadu Berjaya”


Sumber : 
http://humancareindonesia.wordpress.com/category/sejarah/
http://xryzwap.blogspot.com 
http://makalahmajannaii.blogspot.com 
http://www.lenteratimur.com  

Berikut ini adalah Foto-foto Mantan Bupati Langkat. Mohon maaf yang lain belum didapat dokumentasinya :
Foto Sumber : (http://benjaya.blogspot.com)

 Tengku Amir Hamzah (1945-1946)
 Letkol Ismail Aswin (1966-1974)
 Letkol Iscad Lubis (1974-1979)
 Letkol H. R. Mulyadi (1979-1984)
 Kol. H. Marzuki Herman (1984-1989)
 Kol. H. Zulfirman Siregar (1989-1994)  
 Drs. H. Zulkifli Harahap (1994-1998)
 H. Abd. Wahab Delimunte, SH (1998-1999)
 H. Syamsul Arifin, SE (1999-2008)
 Drs. H. H. A. Yunus Saragih, MM (2008-2009)
  H. Ngogesa Sitepu, SH (2009-Sekarang)

0 comments:

Post a Comment