Selamat Datang, ke Kota Kecil Kami Tanjung Pura

Tanjung Pura, Blog Ini Khusus Kami Persembahkan Kepadamu Yang Mana Kau Adalah Tempat Tinggalku Yang Sangat Kucintai...

Kumpulan Karya Riwayat Singkat Amir Hamzah

Temukan Disini Kumpulan Puisi Karya "Emas" Tengku Amir Hamzah...

Riwayat Singkat Syech Abdul Wahab Rokan

Ulama Besar Bumi Langkat...

Selamat Datang di Tanjung Pura, Langkat!

Situs Blog Anak Tanjung Pura, Langkat

Saturday, 26 December 2015

Big War In Malacca : Kedatangan Bangsa Eropa Ke Bumi Bangsa Melayu Kesultanan Malaka (Malaysia).


Ditulis oleh John Doe Dalam Sebuah Buku Catatannya : 

"Pelabuhan Malaka itu dalam keadaan yang mengerikan. Setiap malam, sungai Malaka harus dirantai dengan kayu gelondongan, untuk menjaga para perampok Bajak Laut menyerang ke pelabuhan kecil ini. Para Pelaut harus tidur di kapal mereka, untuk menjaga kargo mereka, dan untuk mencegah serangan dan pembakaran kapal yang sering terjadi... Malaka tidak lagi aman "... - Rekaman Portugis.

Malaka adalah sebuah Kota yang terletak di bagian selatan berbatasan langsung dengan Kota Johor dan Negeri Benua Sembilan, Negara Malaysia. Dikenal memiliki reputasi sebagai kota internasional pertama, merupakan Situs Warisan tertua di Dunia yang terdapat di Malaysia. Ini adalah tempat pertama yang memulai hubungan diplomatik serta urusan luar negeri resmi bangsa asia dengan berbagai negara asing di Eropa. Di sinilah awal mula pertama kalinya Kesultanan Bangsa Melayu berperan penting sebagai pemegang tampuk Kerajaan Malaysia yang dikenali hingga saat ini. Di sini pula awal jatuhnya Kesultanan Melayu Nusantara pertama kali bermula dengan datangnya bangsa Portugis yang menjajah Malaka pada tahun 1511. Malaka memiliki cerita sejarah yang sangat panjang dan menarik untuk dikupas serta dibagikan kepada semua orang di seluruh penjuru dunia.

Latar belakang singkat


Malaka memiliki cakupan luas wilayah sekitar 1668km persegi dengan 790.136 penduduk merupakan daerah terkecil kedua di Malaysia setelah Perlis. Jumlah penduduk dikategorikan menurut kelompok etnis Melayu sebagai berikut : 64,12%, 25,25% Cina, India 6%, Lainnya 0,48% dan non warga 4,15%. Kota Malaka hanya dapat diakses melalui jalan darat saja. Tidak terdapat jalur penerbangan dan juga jalur kereta api untuk menuju ke Malaka.


Sejarah Malaka

Sejarah Malaka telah berdiri jauh sebelum Raja Pareswara datang dan memimpin Kesultanan Melayu Malaka. Malaka dikenal sebagai “Whu Shu” bagi para pelaut Cina. “Whu Shu” dalam bahasa Cina berarti “Pulau Besar”. Kala itu Merupakan pulau tempat Persinggahan untuk kapal-kapal para pedagang dari Cina untuk mendapatkan air bersih dan kayu bakar sebelum melanjutkan lagi perjalanan jauh mereka mengelilingi dunia. Selain beristirahat untuk menunggu datangnya angin Monsoon, yang membantu mendorong kapal-kapal layar mereka menuju ke arah tujuan mereka, Pulau Malaka yang begitu terkenal ini juga merupakan tempat di mana para pelaut lokal setempat menawarkan hasil bumi Malaka yaitu ikan asin kering, untuk diberikan kepada para pedagang dari Cina untuk kemudian ditukarkan dengan bahan furniture asal negeri Cina seperti keramik dan kain sutera. Diperkirakan sekitar setiap kali mereka singgah di pelabuhan Malaka ini, 20 sampai 30 orang dari para pelaut memutuskan untuk menetap sejenak di pesisir Malaka. Awal mula Perdagangan Barter ini terlebih dahulu sudah jauh lebih awal ditemukan sebelum priode-zaman Kekaisaran-Kerajaan ada.


Pareswara Sultan Pertama Rakyat Malaka

Pareswara adalah seorang Pangeran Pemeluk Agama Hindu yang berasal dari dari Kepulauan Palembang, Sumatera, Indonesia ia merupakan keturunan dari Raja Sailendra. Ia kemudian menikah dengan salah seorang Putri dari kerajaan Majapahit yang terletak di Kepulauan Jawa Timur. Awal mula menjabat, ia ditunjuk sebagai penerus resmi tahta Kerajaan ayahandanya yang kala itu adalah seorang Raja dari Kerajaan Sriwijaya, untuk beberapa priode-bulan sebelum di Jajah Oleh Kerjaan Terbesar Suku Bangsa Jawa Yaitu Kerajaan Majapahit. Hingga Suatu Waktu Raja Majapahit Yang sangat terkenal seluruh penjuru dunia adapun dialah yang bernama "Hayam Wuruk" Akhrinya Wafat. Ini merupakan sebuah momen yang menyedihkan rakyat suku bangsa jawa kala itu namun kabar ini adalah sesuatu kabar yang sangat menggembirkan bagi seorang Pareswara, yang sudah lama memiliki ambisi terpendam dan sangat tinggi, dikarenakan ia tidak puas dengan posisi yang diberikan Raja Majapahit kepadanya, kasta atau kedudukannya berada lebih rendah dari penguasa kerjaan Majapahit ketika itu, yang ketika itu dikuasai oleh Hayam Wuruk. Setelah kematian Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit akhirnya mengalami priode yang sangat kelam, keruntuhan kekaisaran dikarenakan terjadinya konflik / baku hantam antar sesama suku bangsa jawa yang memperebutkan tahta Kerajaan, setelah tiadanya lagi pemimpinnya Raja Hayam Wuruk. Hal Ini ketika itu memberikan kesempatan yang sangat terbuka lebar bagi Pareswara beserta para pengikutnya untuk Memisahkan Kerajaan Sriwijaya yang ketika itu berada dibawah jajahan Tampuk Kekuasaan Pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Pada tahun 1391, Parameswara menggelar upacara peresmian pengangkatan jabatan untuk dirinya sendiri. Dalam upacara ini, ia memproklamirkan dirinya kepada seluruh bangsa di dunia bahwa dirinya adalah Seorang Raja Perkasa yang akan mengambil gelar-gelar Kaisar Untuk Tiga Benua di Penjuru Dunia. Marah dengan tindakan Pareswara itu kemudian orang-orang pribumi Jawa memutuskan bersatu kembali dan mengambil sikap tegas untuk menyerang kerajaan Sriwijaya. Aksi Peperangan pun tidak terelakan, Kala Itu Kerajaan Majapahit yang memiliki jumlah tentara yang jauh lebih besar dari yang dimiliki oleh Paraswara Merasa Cemas akan keselamatan dirinya dan pengikutnya, Pareswara beserta para pengikutnya pun akhirnya memutuskan untuk segera angkat kaki/melarikan diri ke sebuah pulau, adapun kala itu Pulau tersebut bernama “Temasek” (Sekarang adalah Negara Singapura).


Ketika itu, "Pulau Temasek" dipimpin oleh seorang Kaisar yang bernama Ayudhya Raya. Dalam Transmigrasinya ke Pulau Temasek ini tidaklah serta merta berjalan dengan mudah, Pareswara yang ketika itu merupakan seorang pendatang dari luar daerah mendapatkan penolakan keras dari masyarakat setempat dan tidak diizinkan masuk oleh para pengawal-penjaga Kerajaan Kekaisaran Temasek kala itu dipimpin oleh seorang bernama Ayudhya Raya untuk memasuki wilayah kekuasaannya, sontak saja hal itu menyulut api pertikaian hingga menyebabkan terjadinya Peperangan hebat, Singkatnya Parameswara pun akhirnya memenangkan Pertempuran besar itu dan ia berhasil merebut tahta kejayaan kekuasaan Tertinggi Pulau tersebut, setelah ia dan para prajurit tempurnya yang melakukan gempuran besar-besaran dan membunuh Kaisar Ayudhya Raya beserta seluruh bala tentaranya yang kala itu merupakan tokoh pemimpin dan pemilik tatha kerajaan tertinggi kepulauan Temasek (Singapura).

Tidak Ingin Diketahui Gerak Langkahnya oleh Tentara Kerajaan Majapahit, Pada Tahun 1398, Pareswara dan para pengikutnya memutuskan untuk melarikan diri lagi ke sebuah daerah bernama Muar, Johor, Selatan Malaysia. Ia meneruskan perjalanan panjangnya hingga menuju ke daerah Malaysia lainnya seperti Sening Hujung, Sungai Bertam, kemudian barulah akhirnya Ia menemukan tempat yang sangat terkenal diseluruh penjuru dunia sebagai pusat jalur Perdagangan Dunia Kala itu yaitu Malaka.

Suatu saat didalam perjalanannya ia dan para pengikutnya kelelahan, mereka beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon Malaka, Ia pun mengalami sebuah kejadian aneh disana, sekor anjing liar yang sedang berburu telah ditendang dan didorong ke sungai oleh seekor rusa. Dahulu, masyarakat umum sangat meyakini dengan namanya mitos dan tahayul, sebagai sebuah referensi ataupun sebuah ilham/petunjuk. Setelah adanya kejadian itu, Pareswara memutuskan untuk membangun sebuah kerajaan baru oleh karena daerah itu dikelilingi oleh Banyaknya Tumbuh-Tumbuhan Pepohonan Malaka sebab itulah disebut “Malaka” Namanya dikarenakan erat hubungannya dengan Nama Tumbuhan Pepohonan Malaka.

Pareswara tiba di Malaka telah disambut baik oleh para penduduk setempat. Pareswara yang juga telah menerima jabatan sebagai pewaris tahta Kekaisaran Sriwijaya memungkinkan dirinya untuk mendirikan Sebuah Kerajaan Melayu yang baru, yaitu Kerajaan Malaka.



Pareswara Menemukan Kerajaan Melayu pertama Kesultanan Malaka merupakan sebuah ketidaksengajaan, terjadi pada saat gerakan besar-besaran Kapal Angkatan Laut Negara Cina yang berlayar bertujuan untuk berdagang ke seluruh penjuru dunia, Kala itu Kekaisaran Negara Cina (China) memiliki sebuah ide pemerintahan yang sangat bijaksana, untuk meningkatkan kekayaan bangsanya suku bangsa Cina ia membuat sebuah Perintah kepada seluruh masyarakat yang dipimpinnya, agar melakukan perdagangan memperkenalkan produk buatan bangsanya sendiri keseluruh penjuru dunia, dan Melarang Keras Seluruh Masyarakat Bangsa China dibawah tampuk kekuasaannya untuk menghormati adat dan kebudayaan suku bangsa lain dimanapun di seluruh penjuru dunia yang mereka temui dan kunjungi, Dengan Menggunakan Kapal Besar Yang Dilengkapi Armada Para Pasukan Pengawal Tentara dilengkapi persenjataan Tempur yang lengkap milik Kekaisaran China bukan untuk berperang melainkan untuk mengamankan dan mengawal para pedagang mereka dari hal-hal yang bersifat merugikan mereka,



Kapal-kapal besar mereka itu disandarkan di berbagai Pelabuhan terkenal diseluruh pelosok dunia diantaranya adalah Asia tenggara, India dan Timur Laut Afrika. Sementara Kaisar Yung Long menjadi pendiri kedua Dinasti Kekaisaran Ming, ia menekankan melakukan hubungan militer dengan negara lain. Kaisar yung Lo mengirim beberapa delegasi Imperial ke berbagai negara yang memiliki jalinan hubungan diplomatik dan juga memberikan perlindungan kepada pedagang yang memiliki arah tujuan ke negara bagian pesisir salah satunya ialah Malaka. Delegasi/Utusan Armada Besar Imperial Kekaisaran China dipimpin oleh Laksamana Yin Ling dikuti oleh Laksamana Cheng Ho. Di Tahun 1403, Delegasi Imperial pertama yang tiba di Malaka adalah Delegasi yang dipimpin oleh Laksamana Yin Ching, Di ikuti oleh Laksamana Cheng Ho yang sempat melakukan enam kali persinggahan di Malaka masing-masing berjarak 29 tahun setelah kehadiran Laksamana Yin Ling di Malaka.

Daftar Nama-Nama Sultan Malaka :
  •     Parameswara (Sultan Iskandar Syah) 1400-1414
  •     Sultan Mahkota Iskandar Syah 1414 - 1424
  •     Sultan Muhammad Syah 1424 - 1444
  •     Parameswara Dewa Syah 1444 - 1445
  •     Sultan Muzaffar Syah 1445 - 1459
  •     Sultan Mansor Syah 1459 - 477
  •     Sultan Aluddin Riayat Syah 1477 - 1488
  •     Sultan Mahmud Syah 1488 - 1511


Sukses Pelabuhan Malaka

Malaka menjadi kota dan Pelabuhan internasional pertama di Malaysia bahkan tanpa menghasilkan produk apapun. Pelabuhan menjadi pusat bertukar produk dagangan lokal dari sekitar kepulauan Melayu seperti Aceh, Banten, Ambon, Makassar dan Palembang untuk distribusi ke pedagang asing yang datang dari berbagai penjuru-belahan dunia.


Faktor Kemajuan Pelabuhan Malaka


Sukses Pelabuhan Malaka sebagian besar disebabkan oleh suasana politik di Asia Tenggara yang kondusif, termasuk langkah-langkah yang diambil oleh Pareswara. Selain perlindungan yang diberikan oleh Kaisar Cina untuk daerah perdagangannya yang begitu menguntungkannya Malaka, tidak ada kekuatan lain di Kepulauan Melayu yang mau berani menjamin keamanan dan memfasilitasi berbagai aktivitas perdagangan.
  1. Malaka Merupakan Posisi Strategis - terletak di tengah-tengah rute perdagangan terletak diantara Negara India dan China. Pelabuhan yang alami dilintasi oleh angin Monsoon dari bagian Timur Laut dan Barat Laut.
  2. Merupakan Kepulauan Melayu yang kaya dengan sumber daya alamnya seperti Herbal dan Tumbuh-tumbuhan Pedas.
  3. Efisien dan Memiliki Pemerintah yang terorganisir.
  4. Sistem Koleksi Pajak daerah yang disiplin dan efisien.
Ketika Pelabuhan dibuka, bukan hanya sebagai tempat transit bagi kapal-kapal asing menunggu perubahan angin Monsoon, tetapi juga tempat untuk beristirahat dalam perjalanan laut dan merupakan tempat perdagangan yang adil. Pareswara membangun tempat (Bazaar) Perdagangan dipinggiran Sungai Malaka dan juga sangat dekat dengan pusat kota untuk pedagang. Selain itu gudang bawah tanah dibangun oleh Pareswara untuk melindungi barang-barang dagangan dari pencurian dan kebakaran. Stabilitas politik dan kebijakan perdagangan yang adil mampu menarik pedagang untuk datang dari seluruh penjuru Nusantara ke Malaka, baik dari Negara China, India, Afrika hingga dari Arab Saudi. Bahkan Karena Popularitas Kepulauan Malaka yang mendunia itu Tercatat pula dalam bukti catatan sejarah bahwa Negara Thailand juga pernah sempat ingin menyerang Malaka, namun, pertempuran itu hanya sempat berlangsung di daerah Sebelum Malaka di Sebuah Perairan Wilayah Malaysia lainnya Yaitu di Muar. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 1447.

Berikut Adalah Ragam Produk ataupun Bahan Yang Dijual Oleh Para Pedagang Berdasarkan Daerah Tempat Asalnya :

Pedagang Cina :
  •     Sutra dan Satin
  •     Porselen
  •     Emas
  •     Perak
  •     Kapas
  •     Tembaga
  •     Teh
  •     Candu

Pedagang India :
  •     Kain
  •     Perhiasan
  •     Ware kuningan
  •     Permadani

Pedagang Arab :
  •     Mutiara
  •     Parfum
  •     Dupa
  •     Senjata
  •     Opium disebut "Madak"

 Pedagang Melayu :
  •     Kayu cendana
  •     Kunyit
  •     Lada
  •     Cengkeh
  •     Kayu manis
  •     Pala
  •     Gambir
  •     Timah
  •     Beras

Awal Kedatangan Portugis di Malaka (Portuguese to Malacca)

Harmoni dan keadilan dalam bidang perdagangan diciptakan oleh Para Sultan-Sultan Malaka terdahulu sebelumnya yang sangat disayangkan tidak dapat dipertahankan Peraturan Sistemnya itu, adapun kesalahan dimulai pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Shah. Kelemahan yang paling berdampak utamanya ialah tidak memperhatikan administrsi pejabat negara bagian dan garis wilayah jajahannya. Kesempatan ini digunakan oleh para pejabat wilayah pemerintahan untuk melakukan Korupsi dan Mengakibatkan Perpecahan antara pejabat pemerintah. Menyadari akan kesulitan untuk mengembalikan situasi kembali seperti semula, ia pun menyerahkan tahta jabatannya tersebut Kepada anaknya yakni Sultan Ahmad Shah. Yang Ketika itu masih sangat muda belia dan belum berpengalaman untuk memerintah kerajaan apalagi dalam masa kekacauan yang sangat kritis, Dan anaknya itu Sultan Ahmad Shah juga gagal untuk memperbaiki situasi. Dimana melemahnya pemerintah negara bagian Malaka.

 Peta Jalur Perdagangan Portugal (Map Trade of Portuguese) 


Portugis di Malaka 

Flag Clipart  => Clipart
Portugis mengetahui tentang keberadaan pelabuhan Malaka yaitu dimulai sejak pada kunjungan Kapal pertama mereka ke daratan Pantai Goa di India pada tahun 1498. Pada tahun 1506, informasi tentang kekayaan Pelabuhan sudah dikenal oleh beberapa otoritas yang tinggi mereka di Kota Asal Mereka Lisbon, Portugal. Demi Alasan Keamanan, upaya pertama Pemerintah Portugis untuk Masuk ke Malaka salah satunya adalah dengan menyamar menggunakan kapal pedagang Muslim yang mereka curi. Pada tahun 1505, dua pelaut Portugis bernama Francisco Pereira dan Estevão de Vilhena bersama dengan penerjemah bahasanya ditugaskan untuk berlayar melaksanakan target operasi pengintaian mereka pertama kalinya menuju Malaka. Dalam perjalanan mereka itu, mereka diserang oleh sekelompok Penduduk Muslim setempat ketika menyandarkan kapalnya di Pantai Coromandel dan memaksa mereka untuk kembali ke daerah asalnya.



Namun Tak Habis Akal, Pada tahun 1508, Portugis memutuskan untuk mengirim Armada Gelombang Keduannya untuk Berlayar langsung menuju ke Malaka (Malaysia ) dari Lisbon (Portugal) yang diketuai oleh Diogo Lopes de Sequieira. Dan Armada itupun akhirnya berhasil tiba di Malaka tepatnya pada bulan September 1509. Pada awalnya, kedatangan mereka disambut hangat oleh Sultan Mahmud Shah (Sultan terakhir) dan mereka telah membuat perjanjian kesepakatan perdagangan dengan pemerintah daerah setempat. Akan tetapi hubungan yang baik itu tidak bisa terus dipertahankan karena tekanan protes dari para pedagang yang berasal dari Pulau Jawa dan Gujaret. Sebagai hasil dari tekanan protes, Sultan Mahmud mau tidak mau harus membatalkan perjanjian dengan Portugis.

Sultan dan Bendaharanya menyetujui rencana untuk membunuh Diogo Lopes de Sequira dan juga para pengikutnya dalam sebuah acara makan malam. Namun rencana itu ketahuan di bocorkan oleh orang-orang dari Persia yang didominasi oleh para kaum perempuan. Insiden tersebut lantas mengakibatkan seorang tentara Portugis tewas dan beberapa lainnya ditangkap oleh Sultan Malaka, Armada Diogo Lopes de Sequira pun dipaksa angkat kaki dan berlayar kembali ke Goa, India meninggalkan beberapa orangnya di penjara dan kehilangan banyak barang-barang perdagangannya.

Orang-Orang Portugis di Goa tidak bisa berbuat banyak karena mereka tidak sepenuhnya memahami kota Goa merekapun akhirnya terpaksa kembali ke Kota Negaranya Lisbon, Portugal.

Pada Bulan Maret 1511, Adalah Momentum Sejarah Terbesar Pemerintahan Negara Kesatuan Portugal Dalam Menyerbu Malaka, Portugal Mengutus delapan Kapal Perangnya yang Mengangkut 1000 Prajurit terbaik Bala Tentara Pasukan Armada Kapal Perang dilengkapi alat persenjataan tercanggihnya yang kala itu dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque mereka berbondong-bondong beriringan berlayar menuju ke Perairan Selat Malaka. Alfonso menuntut pembebasan atas pria-pria Portugis yang dipenjarakan, mereka juga menuntut agar diizinkan untuk membangun benteng dan semua barang dagangan mereka yang telah dirampas harus di kembalikan.


Negosiasi antara Pihak Portugis dan Sultan berlangsung selama beberapa hari. Sebelum tiba ke Malaka, Portugis ditangkap oleh kapal pedagang dari Gujarat. Portugis mengancam Sultan akan melakukan tindakan anarkis mereka mengancam akan mengganggu keberadaan kapal-kapal para pedagang. Sultan saat itu terlihat seperti menyetujui atas permintaan Alfonso, Akan tetapi ia tetap tidak membuat tindakan apapun, Alfonso menduga bahwa Sultan mencoba untuk mengulur-ulur waktu untuk mendapatkan bala bantuan dari luar.
 
Pada tanggal 25 Juli 1511, Benar saja dukungan untuk Sultan pun datang dari beberapa pedagang diantaranya dari Negara Cina dan India, Namun peluncuran serangan pertama Portugis yaitu dengan menyerbu jembatan yang menghubungkan jalur perdagangan ke pusat kota Malaka, akan tetapi Portugis tidak mampu mempertahankan aksinya itu disebabkan adanya serangan berkelanjutan dari masyarakat setempat. Pada tanggal 8 atau 9 bulan berikutnya tepatnya bulan Agustus, Portugis datang kembali dengan niat menghancurkan jembatan dengan cara sistematis yaitu membom pusat kota. Dan Pada tanggal 25 Agustus, 1511, Malaka pun resmi bertekuk lutut dan jatuh ke tangan Portugis. Sultan Mahmud Shah telahpun melarikan diri ke Muar. Pada tahun 1513, Sultan Mahmud pindah ke Pahang dan kemudian terus melarikan diri menuju ke Bentan. Sultan Mahmud, yang begitu frustrasi dengan jatuhnya Malaka ke Portugis membunuh anaknya Sultan Ahmad Shah karena gagal untuk melaksanakan tugasnya untuk membela Malaka.

Antara tahun 1515-1519, Sultan Mahmud meluncurkan lima serangan terhadap benteng Portugis. Upaya terakhir dilakukan pada tahun 1523 dimana Sultan Mahmud mengepung benteng Portugis dan membatasi ketersediaan pasokan makanan, tapi usahanya itupun gagal. Pada Tahun 1526, Portugis meluncurkan misi sebuah serangan khusus ditujukan mengarah pada Sultan, Sultan dan para pengikutnya dipaksa mundur ke Pulau Kampar, Kepulauan Riau, Sumatera, Indonesia. Akhirnya Kematian Sultan Mahmud yang terjadi pada tahun 1528 menyebabkan Kesultanan Melayu Malaka menjadi lumpuh dan seketika hilang. Setelah jatuhnya Malaka ke Tangan Portugis, para pedagang tidak mau lagi datang ke pelabuhan Malaka. Sebaliknya, mereka beralih berdagang ke pelabuhan Aceh.

Jatuhnya Malaka ke Portugis mengakhiri era Melayu Kesultanan Malaka, kerajaan hanya berkuasa selama 111 tahun.

Sebelum Kedatangan Belanda

Tujuan utama Belanda (Dutch) datang ke Asia : -
  1.     Mendominasi Perdagangan Rempah-rempah
  2.     Mendominasi Perdagangan Kain di India
  3.     Mendominasi Perdagangan Tin dalam bahasa Negara Melayu

Sebelum pembentukan Perusahaan (East India Company) Hindia Timur Belanda, Pedagang Belanda sudah mengorganisir aktivitas jalur perdagangan terutama dengan para pedagang rempah-rempah di Kepulauan Melayu. Pada Tahun 1595 kedatangan kapal Belanda pertama adalah tidak lain hanya untuk melakukan perdagangan langsung dari sumbernya. Keuntungan besar dari ekspedisi tersebut mendorong Belanda untuk mendirikan Perusahaan Hindia Timur Belanda Bernama (Vereenigde Oostindische Compagnie) atau disingkat menjadi VOC. Pada tanggal 20 Maret 1602, yang kantor pusat pertama perdagangannya tersebut Resmi didirikan di Banten Jawa Barat, Dan pada tahun 1611 Batavia (Jakarta Ibu Kota Indonesia saat ini) terpilih sebagai Posko Perdagangan Kedua oleh VOC.

Belanda di Malaka

Flag Clipart  VS   Flag Clipart

Belanda pada awalnya, tidak tertarik untuk menyerang Portugis di Malaka. Namun karena persaingan perdagangan yang kian hari semakin kuat dengan pihak Portugis, Inggris dan juga Negara lain-lainnya yang sebagian besar didominasi oleh kekuatan dari Negara Wilayah Barat. Belanda ketika itu berada dibawah naungan bendera Hindia Timur Belanda harus bertindak cepat untuk mempertahankan investasi mereka. Belanda takut Malaka akan ditaklukkan oleh orang lain yang berasal dari Wilayah kekuatan Barat dan nantinya akan mengendalikan pergerakan kapal-kapal yang akan melintas di jalur Selat Malaka Menuju Batavia tentunya bila hal ini terjadi akan sangat merugikan Pihak Belanda.



Peta Jalur Perdagangan Belanda (Map Trade of Dutch/Netherland)



Pada saat itu, Portugis telah mengubah Malaka sebagai benteng yang tidak bisa ditembus. Tercatat tiga kali percobaaan yang telah dilakukan oleh Pihak Belanda untuk menghancurkan Dominasi Kekuatan Portugis. Yang Pertama terjadi pada tahun 1597, kedua kalinya Belanda mencoba lagi pada tahun 1602 namun Gagal. Barulah Akhirnya Upaya Ketiga Kerja Sama Pihak Belanda yang didukung sepenuhnya oleh Pihak Kerajaan Johor Raya mengepung benteng Pertahanan Portugis. Dengan Menghambat jalur masuknya makanan yang dilakukan oleh orang-orang dari Johor di perbatasan sungai-sungai dan di tiap-tiap daerah terpencil yang tidak diketahui oleh Portugis sementara Belanda Mengontrol Serta Menjaga Keamanan aksi tentara Johor dalam menjalankan misi tersebut dari wilayah pesisir-perairan.


Selama Proses Pengepungan, kedua belah pihak saling silih berganti bertukar tembakan meriam dan banyak menghancurkan bangunan-bangunan penting seperti Rumah Sakit, Gereja dan dinding benteng. Wabah penyakit Malaria di antara kedua belah Pihak pasukan tentara juga musim hujan yang tak kunjung henti tidak menyurutkan tekat kedua belah pihak untuk melanjutkan pertempuran.


Hingga Tepatnya Pada Pukul 10:00 Pagi Hari Pada Tanggal 14 Januari 1641. Portugis mengibarkan bendera putih diatas menara benteng yang berarti mengakui kekalahannya terhadap Belanda setelah menguasai Malaka selama 130 tahun. Meskipun Belanda tidak berniat untuk membuat Malaka sebagai pusat administrasi dan pelabuhan utama, mereka tinggal dan menempati Malaka kurang lebih selama 180 tahun. Belanda memiliki kebijakan yang berbeda dari Portugis. Para Pejabat Belanda tidak berminat untuk menikah dengan para perempuan penduduk lokal. Belanda juga lebih suka menggunakan layanan pedagang dari Cina juga dari India, disebabkan Banyaknya perkawinan tentara Portugis dengan perempuan India. Kemudian Belanda Memberi Batasan untuk orang-orang Portugis Malaka di mana mereka tidak diizinkan untuk mempunyai gereja, Semua aktifitas dibatasi dan Para Pendeta Pihak Portugis tidak diizinkan untuk melakukan upacara keagamaan apapun.

Seperti Portugis, Belanda juga terlibat dalam konflik dengan kerajaan lokal lain di sekitar Kepulauan Melayu, Adapun perang tersebut terjadi dengan prajurit Bugis Raja Haji. Raja Haji memiliki hubungan yang baik dengan Belanda sampai 1782. Belanda gagal memenuhi janji mereka untuk berbagi hasil rampasan dari kapal Inggris yang telah mereka sepakati sebelumnya. Kemudian Raja Haji bereaksi untuk menyerang Belanda di Malaka. Belanda membalas dengan melakukan sebuah penyergapan dalam suatu pagi hari yang gelap gulita adapun posisi Raja Haji ketika ditaklukan ia sedang berada di Teluk Ketapang dan Aksi penyergapan tersebut menyebabkan angka kematian yang sangat besar, untuk kedua belah pihak dan juga merenggut nyawa dari Raja Haji itu sendiri.
Inggris di Malaka

Dua perang penting dengan orang-orang Bugis terjadi di sekitar tahun 1755 - 1758 dan tahun 1783-1784 penyebabnya adalah Belanda kehilangan pengaruhnya di banyak daerah dan juga melemahnya aset saham Hindia Timur Belanda (East India Company). Inggris pada saat yang sama baru saja memenangkan perang “Anglo-Dutch” melawan Belanda dan berhasil mempengaruhi beberapa penguasa lokal untuk mendukung mereka.

Britania Raya (United Kingdom) Inggris di Malaka

Flag Clipart Clipart
Pada tahun 1795, Gerakan Para Pejuang Anti Belanda Membuat Misi Berbahaya dengan Mengundang sekelompok orang-orang dari Pejuang Perancis untuk menyerang Raja Belanda, Terpaksa RajaWilliam  pemimpin dari Belanda melarikan diri ke Inggris untuk mendapatkan perlindungan. Untuk mencegah koloni Belanda jatuh ke negara-negara Barat lainnya, Belanda (Netherland) menulis surat instruksi khusus yang ditujukan ke semua Gubernur Bagian Administrasi Belanda yang berada di luar negeri untuk menyerahkan kekuasaan mereka sepenuhnya kepada Inggris (Britania Raya/ United Kingdom). Surat itu dikenal tokoh sejarawan dunia sebagai “Surat Kew” karena yang ditulis langsung oleh seorang Raja di Negeri Belanda di Tulis Langsung dari Rumah Istana Kerajaan Negeri Belanda yang berada disebuah Istana yang bernama “Istana Kew”.

Menurut Bendahara Wina pada tahun 1814, Malaka dikembalikan kembali ke Belanda pada tahun 1818 akan tetapi Malaka kembali lagi ke Tangan Inggris pada tahun 1824 setelah Akhir Peperangan Terjadilah Perjanjian yang sangat terkenal yaitu Perjanjian atau Kesepakatan “Anglo-Dutch” Yang di Buat Pada Tahun 1824. Perjanjian ini dibuat untuk menyelesaikan sengketa yang memakan waktu cukup lama. Kesepakatan “Anglo-Dutch” Tahun 1814, Adapun Isi penting dari perjanjian ini diantara adalah : - Agar Belanda mengakui posisi Inggris di Singapura dan Penang, Belanda akan menyerahkan Malaka ke Inggris dan sebagai imbalan Inggris akan memberikan “Bencoolen Island” (Pulau Bengkulu) kepada Belanda. 

Di bawah kendali Inggris, kota Malaka menjadi sangat tenang tanpa banyak aktivitas terjadi. Inggris lebih berkonsentrasi untuk mengembangkan Kota Penang dan juga Singapura sebagai pusat Pelabuhan perdagangan mereka. Malaka resmi menjadi bagian dari Federasi Malaya Tepatnya Pada Tanggal 31 Agustus 1957.

Peta Jalur Perdagangan Inggris (Map Trade of England/British) 


Daftar objek dan Hal yang Dapat Dilakukan di Malaka

Sebagai negara yang dijajah selama 446 tahun oleh Bangsa Portugis, Belanda, Inggris dan Juga Jepang. Hampir semua tempat-tempat menarik di Malaka memiliki orientasi sejarah seperti Gereja, Kantor Administrasi Tua, Rumah Tradisional, Museum dan Ragam Makanan. Anda Bisa Memperoleh pemandu wisata jika berencana melakukan wisata untuk rute-jalur perjalanan suatu hari nanti jika hendak ke Malaka atau tinggal untuk bermalam-menginap.


Daftar Situs Warisan Dunia yang terdapat di Kota Malaka :
  1.     Stadhuys Building
  2.     Queen Victoria Fountain
  3.     Jonker Street
  4.     Heeran Jalan
  5.     Porta De Santiago
  6.     Gereja Saint Paul
  7.     Saint John Fort
  8.     Kuil Cheng Hoon Teng
  9.     Temple Sam Poh Kong
  10.     Masjid Tenkera
  11.     Masjid Kampung Hulu
  12.     Pecinan
  13.     Peter Gereja Saint
  14.     Gereja Saint Xavier

Objek wisata di Malaka lainnya :
  1.     Malacca River Cruise
  2.     Mini Malaysia
  3.     Museum Maritim Malaka
  4.     Replika Istana Sultan Malaka
  5.     Baba Nyonya Heritage Museum
  6.     Menara Taming Sari
Makanan :
  1.         Stingray Asam Pedas
  2.         Laksa
  3.         Asam Laksa
  4.         Ayam Rice Ball
  5.         Cendol
  6.         Kelapa Goyang
  7.         Nanas Tart
  8.         Nyonya Kueh

Semoga Artikel Ini Kiranya Bisa Memberi Manfaat, Apabila ada Salah dan Kurangnya Pada Artikel yang Saya tulis ini saya Mohon Maaf yang sebesar-besarnya.. Terimakasih Atas Waktunya, dan Akhir kata saya ucapkan..

Atas Kesempatan, Kunjungan dan Waktunya  Saya Ucapkan Terima Kasih, Kiranya Semoga Bisa Memberi Manfaat.. Akhir Kata Saya Ucapkan Wabillahitaufiq wal hidayah..

Wassalamu’alaikum.. Warahmatullahi Wabarakatuh...


Adapun Artikel Ini ditulis Oleh Anak Melayu Tanjung Pura, Langkat, Clipart


Special Thanks, Thank you so much to : 

Refference : https://www.wegowithanuar.com


Sunday, 13 December 2015

Pantai Kwala Serapuh, Pantai Asri Bumi Langkat Yang Terlupakan


Mungkin bagi anda yang melihat judul tulisan diatas akan membuat rasa penasaran di dalam hati, apakah ada sebuah pantai yang terletak di kabupaten langkat?? Jawaban adalah ya benar. Di Kabupaten Langkat terdapat sebuah pantai yang masih sangat alami walaupun pantainya tak seindah pantai di kuta Bali namun tetap memberikan kesan kepada siapa saja wisatawan yang berkunjung kesana, Adapun nama pantainya adalah Pantai Kwala Serapuh, Terdapat di sebuah kecamatan yaitu kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Jarak pantai tadi jika ditempuh lewat jalur darat dari pusat ibu kota sumatera utara ataupun kota Medan adapun yaitu kurang lebih ± 3 jam perjalanan, serta jika ditempuh dari ibu kota Kabupaten Langkat yaitu kota Stabat kurang lebih ± 2 jam perjalanan dengan mengendarai sepeda motor, dikarenakan daerahnya tidak bisa dilalui dengan fasilitas seperti kendaraan roda empat atau mobil di karenakan penyangga titi atau jembatan yg sudah tua/rapuh dan mungil, Sehingga oleh sebab itu kendaraan roda empat tidak bisa melaluinya.


Jika kita ingin menuju ke Pantai kwala serapuh ini tadi, terdapat 2 jalur alternatif yang pertama yaitu jalur darat dan yang kedua yaitu lewat jalur sungai, Bila kita menempuh melalui jalur darat kita harus menggunakan sepeda motor, sedangkan jika hendak kesana melalui jalur sungai kita dapat memakai alat transportasi masyarakat disana yaitu “sampan” ataupun kapal kecil yang lain sebagainya, Awal mulanya terdahulu jalur darat untuk kita menuju ke pantai itu tadi belum tersedia dikarenakan jalan menuju kesana masih merupakan hutan alami, Akan tetapi setelah adanya pembukaan lahan buat penanaman Kelapa Sawit yang dilakukan secara besar-besaran oleh Para perusahaan pengolah bahan industri kelapa sawit, maka saat ini bila kita ingin kesana maka kita dapat melewati jalur darat dengan melewati jalur lahan perkebunan sawit yg baru di cocok tanam dan  pula beberapa lahan kosong yg akan ditanami kelapa sawit. Dan Ketika kita sudah tiba di Pantai tersebut kita akan berdecak kagum menikmati estetika alami dari Pantai tersebut, dimana rasa penat serta lelah saat perjalanan tadipun akan hilang seketika sesudah kita berdiri dan menikmati udara segar dan pemandangan yang sangat jarang kita temui di Kota, hamparan luas samudra yang seakan tidak bertepi terlihat begitu mempesona nan sangat cantik, semilir angin sepoi-sepoi ditemani riuhan ombak membahana seiring sahutan kicauan burung-burung yang terbang di langit Pantai yang membawa kita ke alam rileksasi seakan terbang jauh dari penatnya masalah sehari-hari kita.


Potensi yang begitu Luar Biasa namun akan tetapi Jika tidak dikelola dengan sangat baik serta tidak di fasilitasi dengan sarana dan prasarana, Dapat dipastikan Potensi itu akan hilang dan bisa saja lenyap ditelan oleh waktu, pada hal pantai nya begitu menentramkan hati. Namun sedikit sekali cara pemerintah untuk menaikkan minat pengunjung adapun salah satunya yaitu dengan cara membuat acara yang nama nya “Pesta Pantai” yang diadakan setahun sekali di tepian pantai itu tadi, dengan beragam acara yg menarik serta yang bertujuan mampu mempertinggi pendapatan penduduk lokal disana, karena memang tempatnya yang sangat jauh bila kita datang dari pusat kota, baik ibukota langkat Stabat juga ibukota sumatera utara Medan, namun dengan adanya acara tersebut setidak nya anggota masyarakat disana mampu menggali potensi yang ada di daerah mereka agar dapat membentuk pendapatan dari bidang lainnya selain melaut bagi mereka. Ketika tiba hari pesta pantai tersebut para pengunjung ramai berdatangan dari beragam wilayah yang terdekat tiba kesitu dimulai dari sekitaran Kab.Langkat bahkan pengunjung jauh datang dari Kota Medan datang untuk ikut serta pada waktu diperingati acara Pesta Pantai tersebut, sebab ini adapun merupakan acara tahunan, jadi hanya diperingat sekali dalam setahun, serta tidak bisa kita jumpai di hari-hari biasa. Di waktu acara itu tadi adapun diadakan beberapa program menarik, diantaranya lomba menyanyi, pemilihan putri pantai, panjat pinang, dan beragam acara menarik lainnya yang menanti untuk kita saksikan.

Begitu Luar Biasa potensi yg terdapat, saat program pesta pantai tersebut yg biasa nya diadakan masih dalam suasana liburan hari raya idul fitri, mengakibatkan pengunjung yg datang begitu ramai, pengunjung yg tiba akan dimanjakan dengan hamparan pasir serta hamparan samudra yg luas serta sampan-sampan yg terlihat begitu mungil ramai tersusun rapi dari kejauhan, serta  apabila datang pasang surut yang ketinggiannya dapat mencapai 3 km dari bibir pantai, jadi ketika surut kita bisa berjalan-jalan santai hampir mencapai ke tengah pantai, bermain dengan ubur-ubur serta siput-siput kecil yg berlari kesana kemari. Rami pengunjung yang mengabadikan momen baik nya itu dengan memakai kamera handphone atau juga kamera digital bertujuan untuk memberitahukan ke khalayak dunia maya serta pula di share ke sahabat, teman-teman mereka yg belum pernah ke pantai ini.


Tetapi acara tadi hanya ada setahun sekali, jadi jika kita datang pada hari-hari yg lain kesana, seperti pantai kosong yg tiada berpenghuni, padahal Bila pemerintah serius mengelola serta  mengembangkan Potensinya maka bisa jadi menjelma menjadi satu kawasan wisata primadona Masyarakat di Kabupaten Langkat selain Bukit Lawang pada bahorok dan   Tangkahan di batang serangan. Sehingga masyarakat  Langkat mampu membanggakan wisata dari daerahnya sendiri, bukan hanya perjalanan ke daerah wilayah yang terdapat di luar langkat saja, padahal potensi wisata daerah langkat tidak kalah bagus pula dibandingkan dengan wilayah yg lainnya yang terdapat di Propinsi Sumatera Utara. Adapun yg wajib perlu menjadi perhatian bagi pemerintah daerah kita khususnya Langkat yaitu sarana serta  prasarana yg mendukung penduduknya, Yang akan mengakibatkan tren Positif bagi pengunjung yang berniat untuk datang, bisa merasa aman serta nyaman menikmati sensasi pemandangan alami karya ilahi rabbi Pantai Kwala Serapuh yang terdapat di Tanjung pura Kabupaten Langkat. Anda masih bertanya-tanya bagaimana suasana yang sebenarnya yang terdapat di pantai kwala serapuh? Jika begitu Anda dapat melihat foto-fotonya yang telah saya siapkan di blog ini.

Sekian dari Saya Terimakasih Atas Kunjungannya, Sehat Selalu dan Wassalamu’alaikum wr.wb.



Monday, 17 March 2014

Kumpulan Puisi Chairil Anwar Lengkap

Kumpulan Puisi Chairil Anwar Lengkap 

Nama Chairil Anwar abadi bersama puisi-puisi nya yang tak lekang oleh waktu hingga saat ini. Beliau sosok penyair angkatan 45 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin. Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis.  (*wikipedia)

Selama hidupnya beliau berhasil membuat beberapa karya tulis berikut diantara karya nya tersebut:
  • Deru Campur Debu (1949)
  • Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
  • Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
  • "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
  • Derai-derai Cemara (1998)
  • Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
  • Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari Puisi Chairil anwar Tentang Cinta, Puisi Chairil Anwar Ibu,  pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

Kumpulan Puisi Chairil Anwar :
                                                                                                                                   
 Aku 
 
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan akan akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi 


TAK SEPADAN

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Februari 1943

Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati

 
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Cintaku Jauh di Pulau

 
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Kawanku dan Aku

 
Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat

Siapa berkata-kata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga

Dia bertanya jam berapa?

Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti

Kepada Kawan 


Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,

belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah berkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!
Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!


Doa

 
Kepada pemeluk teguh
Tuhanku

Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling


Kepada Peminta-minta

 
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga

Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah

Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku

Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku 


Cerita Buat Dien Tamaela
 
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau...

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
 

Sebuah Kamar
 
Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”

Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
d luar hitungan: Kamar begini
3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!


Hampa Kepada Sri
 
Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai di puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencengkung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu! 

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS 

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,

Malam tambah merasuk, 
rimba jadi semati tuguDi Karet, 
di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, 
dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;

Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

RUMAHKU
 
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu

27 april 1943 

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak, berlabuh

SAJAK PUTIH
 
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…
1944

Riwayat Singkat Sastrawan Indonesia Chairil Anwar

Chairil Anwar
Pujangga angkatan 45 ini, merupakan kelahiran Medan, Sumatera Utara Pada Tanggal 26 Juli 1922. Adalah putra Tunggal Dari Seorang Ayah Yang Bernama Tulus,juga merupakan Mantan Bupati Kabupaten Indragiri Riau, Sumatra Barat Dan Ibunya Bernama Saleha berasal dari nagari Situjuh.

Mengawali pendidikan dengan bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Kemudian melanjutkan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama belanda, tetapi tidak sampai tamat. Walaupun latar belakang pendidikannya terbatas, Chairil menguasai tiga bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman.

Dibesarkan dalam keluarga yang bisa dibilang cukup berantakan. orang tuanya bercerai, kemudian ayahnya menikah lagi dan selepas SMA Chairil ikut ibunya ke Batavia yang sekarang bernama Jakarta.

Sejak kecil, Chairil terkenal dengan semangatnya yang membara. Seorang teman dekatnya
Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.

Dalam hidupnya pun ia amat jarang berduka. Salah satu kepedihan terhebat adalah saat nenek tercintanya meninggal dunia, sebab chairil sangat dekat dengan nenek sejak ia kecil.

Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
 “Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta”.

Setelah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.

Chairil berkenalan dengan dunia sastra diusia 19 tahun, dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan. Di majalah Pandji Pustaka untuk pertama kalinya ia mengirimkan puisi-puisinya untuk dimuat, namun banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.

Ketika berusia dua puluh tahun, tulisannya dimuat di Majalah Nisan pada 1942, setelah itu namanya mulai dikenal dan karya-karya lainnya tercipta bahkan sangat fenomenal hingga saat ini, diantaranya “Krawang Bekasi” dan “Aku”.

Ia terkenal dengan puisinya yang berjudul “Aku” dan mendapat julukan ‘Si Binatang Jalang’ karena puisinya itu. puisi-puisinya mayoritas bertemakan kematian, individualisme, dan ekstensialisme. Karya-karya Chairil dikompilasikan dalam tiga buku, yaitu Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir yang merupakan kumpulan puisi bersama Asrul Sani dan Rivai Apin (1950), serta diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Jerman, dan Spanyol.

Waktunya selalu diisi dengan membaca pengarang internasional ternama yang sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia. Seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron.

Chairil memang penyair besar yang menginspirasi dan mengapresiasi upaya manusia meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Dia juga menulis sajak “Persetujuan dengan Bung Karno”, yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.
Bahkan sajaknya yang berjudul “Aku” dan “Diponegoro” juga banyak diapresiasi orang sebagai sajak perjuangan. Kata Aku binatang jalang dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka. Oleh H.B. Jassin seorang pengarang, penyunting dan kritikus sastra ternama indonesia menobatkan chairil anwar sebagai pelopor Angkatan ’45 dan puisi modern Indonesia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin.

Ketika Chairil menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Chairil diketahui menjalin hubungan dengan banyak wanita dan Hapsah adalah satu-satunya wanita yang pernah dinikahinya walaupun ikatan suci tersebut tidak berlangsung lama. Perceraian itu dikarenakan gaya hidup Chairil yang tidak berubah bahkan setelah memiliki istri dan anak. Pernikahan tersebut menghasilkan seorang putri yang bernama Evawani Chairil Anwar yang sekarang berprofesi sebagai notaris.

Chairil meninggal diusia yg belum genap 27 tahun di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949. Banyak versi tentang penyebab kematinnya, mulai dari gaya hidupnya semrawut sehingga kondisi fisiknya yang terus melemah dan penyakit yang dideritanya diantaranya TBC kronis.

Sang Pujangga diSemayamkan di Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Itulah Takdir, Dan Takdir Tak Pernah Memperhitungkan Apa Yang Telah Kita Perbuat. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.
Selama hidupnya, Chairil telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi; kebanyakan tidak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisi terakhir Chairil berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949.

Salah satu bukti keabadian karyanya, pada Jumat 8 Juni 2007, Chairil Anwar, yang meninggal di Jakarta, 28 April 1949, masih dianugerahi penghargaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB) Award 2007 untuk kategori seniman sastra. Penghargaan itu diterima putrinya, Evawani Alissa Chairil Anwar. diterima putrinya, Evawani Alissa Chairil Anwar.


Thursday, 6 March 2014

Riwayat Singkat Syekh Abdul Wahab Rokan, Ulama Besar Bumi Langkat


     Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      إنَّ الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
  "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits ini adalah hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi)

      Dari sini kita ketahui bahwa para ulama itu adalah orang-orang pilihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
      ثُمَّ أَوْرَثْناَ الْكِتاَبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْناَ مِنْ عِباَدِناَ
      "Artinya : "Kemudian kitab itu (Al-Qur'an) Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.”(Fathir: 32).

    Abu Muslim Al-Khaulani rahimahullah mengatakan: “Ulama di muka bumi ini bagaikan bintang-bintang di langit. Apabila muncul, manusia akan diterangi jalannya dan bila gelap manusia akan mengalami kebingungan.” (Tadzkiratus Sami’, hal 34).

      Al-Imam Al-Ajurri rahimahullah dalam muqaddimah kitab Akhlaq Al-Ulama mengatakan: Mereka lebih utama dari ahli ibadah dan lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang zuhud. Hidup mereka merupakan harta ghanimah bagi umat dan mati mereka merupakan musibah. Mereka mengingatkan orang-orang yang lalai, mengajarkan orang-orang yang jahil. Tidak pernah terlintas bahwa mereka akan melakukan kerusakan dan tidak ada kekhawatiran mereka akan membawa menuju kebinasaan. Dengan kebagusan adab mereka, orang-orang yang bermaksiat terdorong untuk menjadi orang yang taat. Dan dengan nasihat mereka, para pelaku dosa bertaubat. 

      Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
      إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمآءُ
      "Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28). 
     Ayat ini merupakan pembatasan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah ulama.” (Miftah Dar As-Sa’adah 1/225).

     Riwayat Hidup dan Pendidikan Syekh Abdul Wahab Rokan
 
 
Syekh Abdul Wahab Rokan
  Nama lengkap Syekh Abdul Wahab Rokan adalah Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi an-Naqsyabandi, terkenal dengan sebutan “Tuan Guru Babussalam (Besilam)”, Faqih Muhammad gelarnya, dan Abu Qosim demikian nama kecilnya. Ayahnya bernama Abdul Manaf bin M. Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tembusai, keturunan dari raja-raja Siak. Sedangkan ibunya bernama Arba’iah binti Datuk Dagi binti Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim, kepenuhan (Riau) dan masih mempunyai pertalian darah dengan Sultan Langkat.

   Ketika wafatnya, Haji Abdullah Tembusai meninggalkan 670 anak cucu. Salah seorang putra beliau bernama M.Yasin menikah dengan seorang wanita dari suku Batu Hampar, dari hasil pernikahan ini kedua sepasang suami istri ini melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Abdul Manaf, yaitu ayah kandung Syekh Abdul Wahab Rokan.  

    Beliau dilahirkan pada tanggal 19 Rabi’ul Akhir 1230 H. bertepatan dengan 28 September 1811 M. di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Sumatera Timur, (Sekarang Negeri Tinggi, Rokan Tengah, Kab. Rokan hulu, Propinsi Riau). Dan wafat pada tanggal 21 Jumadil awal 1345 H. bertepatan dengan 27 Desember 1926 M. di Babussalam, Tanjungpura, Sumatera Timur (Sekarang Sumatera Utara). Abdul Wahab tumbuh di lingkungan keluarga yang menjunjung agamanya. Nenek buyutnya, H Abdullah Tembusai, dikenal sebagai seorang ulama besar merupakan golongan dari raja-raja yang sangat berpengaruh dan disegani pada zamannya.

     Dengan titisan darah tersebut, Syekh Abdul Wahab sejak kecilpun telah terdidik, terutama untuk pelajaran agama. Demi menghapal AlQuran, Syekh Abdul Wahab kecil tak jarang bermalam, di rumah gurunya. Ia pun patuh pada guru, bahkan kerap mencucikan pakaian orang yang mendidiknya itu. Keistimewaan telah tampak sejak Wahab masih bocah. Suatu ketika, saat orang terlelap pada dinihari, Abdul Wahab masih menekuni AlQuran. Mendadak muncul seorang tua mengajarinya membaca aLQuran. Setelah rampung satu khatam, orang tua itu menghilang.

     Pada permulaan belajar ilmu agama, Syekh Abdul Wahab Rokan belajar pada Tuan Baqi di tempat kelahirannya, selain itu beliau juga belajar membaca al-Qurân kepada H.M. Sholeh, seorang alim besar asal Minangkabau sampai tamat. Kemudian Syekh Abdul Wahab Rokan melanjutkan studinya ke Tembusai dan berguru dengan Maulana Syekh Abdullah Halim dan Syekh Muhammad Shaleh Tembusai. Dari keduanya dipelajarinya berbagai ilmu dalam bahasa arab, antara lain kitab-kitab Fathul Qorîb, Minhâju al-Thâlibîn, Iqna’ (Fiqih), Tafsîr Jamâl, Nahwu, Sharaf, Balâghah, Manthiq, tauhîd, Arûdh dan lain-lain. Karena kepintarannya dalam menyerap ilmu-ilmu dari gurunya dan penguasaan terhadap ilmu-ilmu tersebut, digelarlah ia dengan “Faqih Muhammad”, artinya orang yang ahli dalam ilmu Fiqih.

 
   
    Setelah menamatkan studinya dengan dua ulama terkemuka tersebut, Hasrat belajarnya yang tinggi, membuat ia tidak puas hanya belajar sampai di Malaka. Ia seterusnya menempuh perjalanan panjang ke Mekah dan menimba ilmupada tahun (1846 M). Abu Qosim (nama kecil Syekh Abdul Wahab Rokan) berangkat ke Semenanjung Melayu untuk menambah ilmu pengetahuan dan tinggal di Sungai Ujung (Simunjung), Negeri Sembilan. Di tempat ini ia belajar kepada Syekh Muhammad Yusuf Minangkabau, seorang ulama terkemuka yang berasal dari minangkabau. Syekh H. Muhammad Yusuf kemudian diangkat sebagai mufti di Kerajaan Langkat dan digelari “Tuk Ongku”. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari Faqih Muhammad berdagang di kota Malaka. Menariknya, berkat kesalihannya, ia menyuruh pembeli menimbang sendiri barang yang dibeli. Ini demi menghindarkan kecurangan.

    Setelah dua tahun di Malaka Karena Hasrat belajarnya yang tinggi, membuat ia tidak puas hanya belajar sampai di Malaka. Ia seterusnya menempuh perjalanan panjang ke Mekah dan menimba ilmu. (1848 M). Selama enam tahun di Mekkah ia belajar kepada ulama-ulama terkenal seperti Saidi Syarif Zaini Dahlan (mufti mazhab Syafi’i), seorang ulama terkenal berasal dari Turki. Kemudian ia juga berguru dengan Syekh Sayyid Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki dan ulama bangsa Arab lainnya. Kepada ulama-ulama Jawi Atau Asia ia belajar kepada Syekh Muhammad Yunus bin Abdurrahman Batubara Asahan, Syekh H. Zainuddin Rawa, Syekh Ruknuddin Rawa, Syekh Muhammad bin Ismail Daud al-Fathani, Syekh Abdul Qodir bin Abdurrahman Kutan al-Kalantani, Syekh Wan Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa al-Fathani dan lain-lain.

   Selama enam tahun pada guru-guru ternama pada saat itu. Di sini pulalah ia memperdalam ilmu tasawuf dan tarekat pada Syekh Sulaiman Zuhdi sampai akhirnya ia memperoleh ijazah sebagai “Khalifah Besar Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”.

     Pada saat belajar di Mekah, Syekh Abdul Wahab dan murid-murid yang lain pernah diminta untuk membersihkan tandas dan kamar mandi guru mereka. Saat itu, kebanyakan dari kawan-kawan seperguruannya melakukan tugas ini dengan ketidakseriusan bahkan ada yang enggan. Lain halnya dengan Syekh Abdul Wahab. Ia melaksanakan perintah gurunya dengan sepenuh hati. Setelah semua rampung,

   Sang Guru lalu mengumpulkan semua murid-muridnya dan memberikan pujian kepada Syekh Abdul Wahab sambil mendoakan,
 
    mudah-mudahan tangan yang telah membersihkan kotoran ini akan dicium dan dihormati oleh termasuk para raja. Menyimak ketekunan muridnya, suatu ketika Sulaiman Zuhdi, resmi mengangkat Syekh Abdul Wahab sebagai khalifah besar. Pengukuhan itu diiringi dengan bai’ah dan pemberian silsilah tarekat Naqsyabandiyah yang berasal dari Nabi Muhammad SAW hingga kepada Sulaiman Zuhdi yang kemudian diteruskan kepada Wahab. Ijazahnya ditandai dengan pemberian dua gelar.

   Ia pun mendapat gelar Al Khalidi Naqsyabandi. Kemudian mendapat ijazah sebagai “Khalifah Besar Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”, dan diberi nama Syekh Haji Abdul Wahab Rokan Jawi al-khalidi an-Naqsyabandi. Tak lama Syekh Sulaiman Zuhdi menyuruh Abdul Wahab Rokan kembali ke tanahairnya untuk menyebarkan Tarekat Naqsyabandiah.
  
     Di namakan Syekh Abdul Wahab dengan “Rokan”, karena ia berasal dari daerah Rokan, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Di namakan dengan “al-Khalidi”, karena ia menganut tarekat periode Syekh Khalid sampai pada masanya. Dan dinamakan ia dengan “an-Naqsyabandi”, karena ia menganut tarekat yang ajaran dasarnya berasal dari Syekh Bahauddin Naqsyabandi. Menurut silsilah urutan pengambilan tarikat Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Wahab Rokan adalah keturunan ke-32 dari Rasulullah Saw. Setelah kurang lebih enam tahun di Makkah, ia kembali ke Riau. Di sana, ia yang saat itu berusia 58, mendirikan Kampung Mesjid. Dari sana, ia mengembangkan syiar agama dan tarekat yang dianutnya, hingga Sumatra Utara dan Malaysia.

     Kampung Tarekat

    Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan pulang ke tanah air pada tahun 1854 M dan dari sinilah awal karier penyebaran ilmu agama dan thoriqoh dimulai.dalam tahun itu juga. Pada masa awal, beliau mengajar di Tanjung Mesjid, daerah Kubu Bagan Siapi-api, Riau. Namun pada tahun 1856 M beliau mulai mengembangkan tidak hanya di Tanjung masjid, akan tetapi juga mengajar di Sungai Mesjid, daerah Dumai, Riau. Setelah itu beliau mulai merambah daerah di Kualuh, wilayah Labuhan Batu tahun 1860 M. Dan mengajar di Tanjung Pura, Langkat tahun 1865 M. Serta mengajar di Gebang tahun 1882 M, dan dalam tahun 1883 berpindah ke Babussalam, Padang Tualang, Langkat.    

 
   Di Babussalamlah dijadikan sebagai pusat seluruh aktivitas, sebagai pusat tarbiyah zhahiriyah, tarbiyah ruhaniyah dan dakwah membina umat semata-mata mengabdi kepada Allah SWT. Dari sana, ia mengembangkan syiar agama dan tarekat yang dianutnya. Lama kelamaan muridnya banyak dan menyebar hingga ke Asia Tenggara. Sangking terkenalnya, raja-raja diwilayah Riau dan Sumatra Utara pun akhirnya mengundangnya.

   Pada suatu waktu Sultan Musa Al-Muazzamsyah dari Kerajaan Langkat masa itu  mengundangnya. Saat itu sang raja sedang dirudung kesedihan. Pasalnya putranya sakit parah dan akhirnya wafat. Syekh HM Nur yang sahabat karib Abdul Wahab ketika di Makkah yang kala itu menjadi pemuka agama di kerajaan memberikan saran agar Sultan bersuluk di bawah bimbingan Abdul Wahab. Sultan menyetujui dan mengundang Abdul Wahab.

   Abdul Wahab pun akhirnya datang ke Langkat. Di sana ia mengajarkan tarekat Naqsyahbandi dan bersuluk kepada Sultan. Setelah berulang bersuluk (Suatu Cara Beribadah Menurut Ajaran Islam), Sultan Musa memenuhi saran Wahab menunaikan ibadah haji. Di tanah suci sang Raja juga bersuluk kepada Sulaiman Zuhdi di Jabal Kubis.

   

    Berkat kekariban hubungan guru-murid, Sultan Musa menyerahkan sebidang tanah di tepi Sungai Batang Serangan, sekitar 1 km dari Tanjung Pura. Sultan berharap gurunya dapat mengembangkan syiar agama dari tanah pemberiannya. Wahab menyetujui dan menamakan kampung itu Babussalam (pintu keselamatan).

    Dalam tarikh 12 Syawal 1300 H/12 Agustus 1883 M Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan bersama 160 orang pengikutnya dengan menggunakan 13 buah perahu mengarungi sungai Serangan menuju perkampungan peribadatan dengan undang-undang atau peraturannya tersendiri yang dinamakan Babussalam.


    Pendidikan mengenai keislaman diterapkan setiap hari dan malam, sembahyang berjemaah tidak sekali-kali diabaikan. Tilawah al-Quran, selawat, zikir, terutama zikir menurut kaedah Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan lain-lain sejenisnya semuanya dikerjakan dengan teratur di bawah bimbingan Syeikh Mursyid dan khalifah-khalifahnya. Syeikh Mursyid adalah Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan sendiri. Khalifah ada beberapa orang, pada satu ketika di antara khalifah terdapat salah seorang yang berasal dari Kelantan. Beliau ialah khalifah Haji Abdul Hamid, yang masih ada kaitan kekeluargaan dengan Syeikh Wan Ali bin Abdur Rahman Kutan al-Kalantani.


  
   Babussalam berkembang pesat menjadi kampung yang mempunyai otonomi khusus. Kampung ini kemudian dikenal sebagai daerah basis pengembangan tarekat Naqsyahbandiyah di Sumatra Utara. Bahkan Abdul Wahab sempat membentuk pemerintahan sendiri di Babussalam. Diantara yang paling menarik adalah membuat Lembaga Permusyawaratan Rakyat (Babul Funun).
 
    Kendati terjalin erat, hubungan Wahab dan Sultan pernah juga mengalami pasang surut. Keduanya sempat renggang. Kala itu Syekh Abdul Wahab difitnah membuat uang palsu. Akibatnya, Sultan memerintahkan penggeledahan ke rumahnya. Namun kemudian tidak terbukti. Kedanya saling memaafkan. Namun seusai peristiwa Abdul Wahab memutuskan untuk pindah ke Malaysia. Konon kepindahannya ini mengakibatkan sumur minyak di Pangkalan Brandan surut penghasilannya.
      
   Syekh Abdul Wahab Rokan bukanlah sosok yang terkenal dalam pergerakan melawan imperialisme Belanda, tapi ia aktif dalam mengarahkan strategi perjuangan non fisik sebagai upaya melawan sistem kolonialisme. Ini Dapat Terlihat Dimana Ia Pernah mengirim utusan ke Jakarta untuk bertemu dengan H.O.S. Tjokroaminoto dan mendirikan cabang Syarikat Islam di Babussalam di bawah pimpinan H. Idris Kelantan. Nama Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan sendiri tercantum sebagai penasihat organisasi. Beliau juga pernah ikut terlibat langsung dalam peperangan melawan Belanda di Aceh pada tahun 1308 H. Menurut cerita dari pihak Belanda yang pada saat itu sempat mengambil fotonya, Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan mampu terbang di angkasa, menyerang dengan gagah perkasa, dan tidak dapat ditembak dengan senapang atau meriam. Sebagai seorang yang sangat dipuja pengikutnya, Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan cukup dikeramatkan oleh penduduk setempat. Sejumlah cerita keramat tentang beliau yang cukup populer di kalangan masyarakat Langkat diantaranya : pada suatu masa pihak Belanda merasa curiga karena ia tidak pernah kekurangan uang. Lantas mereka menuduhnya telah membuat uang palsu. Ia merasa sangat tersinggung, sehingga ia meninggalkan Kampung Babussalam dan pindah ke Sumujung, Malaysia.

Sebagai informasi, pada saat itulah kesempatan beliau mengembangkan tarekat Naqsabandiyah di Malaysia, di mana masih sangat banyak hingga saat ini. Nah, selama kepergiannya itu, konon sumber-sumber minyak BPM Batavsche Petroleum Matschapij (sekarang Pertamina) di Langkat menjadi kering. Kepah dan ikan di lautan sekitar Langkat juga menghilang sehingga menimbulkan kecemasan kepada para penguasa Langkat. Akhirnya ia dijemput dan dimohon untuk menetap kembali di Babussalam. Setelah itu, sumber minyak pun mengalir dan ikan-ikan bertambah banyak di lautan. Kaum buruh dan nelayan senang sekali.


     Ada peristiwa lain yang menyebabkan Syekh Abdul Wahab juga pernah di fitnah penjajah Belanda dengan cara mempengaruhi Sultan. Mulanya, berbekal potret Tuan Guru Sheikh Abd Wahab, Tuan Guru Babussalam demikian panggilan kehormatannya dituduh Belanda turut bertempur membantu pejuang Aceh melawan Belanda. Padahal, pada saat bersamaan, pengikutnya menegaskan bahwa Tuan Guru sedang berdzikir di kamarnya. (Pada Masa Itu Belanda Merupakan Sekutu/Pihak Yang Mendukung Kesultanan Langkat)

   Note: Menurut cerita dari murid beliau ketika gurunya selesai berzikir dan keluar dari kamarnya terdapat noda darah dari pakaian beliau seolah2 beliau baru pulang dari medan perang wallahualam

    Syekh Abdul Wahhab Rokan merupakan salah satu dari ulama Nusantara yang punya nama besar dan kabarnya mengglobal/mendunia melampaui tanah kelahiran dan daerah asalnya. Bagi masyarakat Langkat Sumatera Utara, Shekh Abdul Wahab Rokan adalah icon peradaban dan perkembangan keislaman. Melalui jasa beliaulah, Islam tersebar kepada masyarakat luas. Kealiman, kezuhudan, aktivitas dan produktivitasnya dalam berkarya dan berdakwah meninggalkan khazanah yang serasa tidak pernah habis digali oleh generasi sekarang.

   Tokoh sejarawan Belanda, Martin Van Bruinessen menulis tentang Shekh Abdul Wahab Rokan:
   Seorang Shekh Melayu (Abdul Wahab Rokan), hanya dengan sendirian saja mempunyai pengaruh di kawasan Sumatera dan Malaysia sebanding dengan apa yang dicapai para Shekh Minangkabau seluruhnya.

     Fitnah Belanda

    Sungguh pun Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan terkenal kezuhudannya, namun beliau tidak mengabaikan perjuangan duniawi, hal ini dibuktikan oleh beliau bersama-sama dengan Sultan Zainal Abidin, Sultan Kerajaan Rokan dan Haji Abdul Muthallib, Mufti Kerajaan Rokan pernah mengasaskan Persatuan Rokan. Persatuan Rokan bertujuan secara umumnya adalah untuk kemaslahatan dan kebajikan Rokan. Walau bagaimana pun tujuan utamanya adalah perjuangan kemerdekaan untuk melepaskan Kerajaan Rokan dari penjajahan Belanda. Pembahagian kerja Persatuan Rokan ialah Sultan Zainal Abidin sebagai pelaksana segala urusan luar negeri. Haji Abdul Muthallib menjalankan pekerjaan-pekerjaan dalam negeri dan Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab dengan menerapkan pendidikan juga memberi semangat pada masyarakat.

    Pada suatu saat Babussalam pernah dihancurkan oleh Belanda dan mengakibatkan tuan guru dan para pengikutnya akhirnya mengungsi. Setelah dirasa aman, maka beliau kembali ke Babussalam, setelah terharu menyaksikan kampung yang dibangunnya menjadi sepi dan hancur, Tuan Guru bersama pengikutnya, kembali membangun Babussalam dan menetap kembali disana. Tak sekadar berkembang pesat, Tuan Guru bersama Babussalam tumbuh sebagai basis Islam yang disegani.

   Tak ayal, pemerintah kolonial Belanda berusaha menjinakkannya. Salah satunya dengan tipu daya berupa memberi gelar kehormatan. Pada tahun 1342 H/1923 M Asisten Residen Belanda bersama Sultan Langkat menyematkan Bintang Emas untuk Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan. Wakil pemerintah Belanda menyampaikan pidatonya pada upacara penyematan bintang itu, Adalah Tuan Syeikh seorang yang banyak jasa mengajar agama Islam dan mempunyai murid yang banyak di Sumatera dan Semenanjung dan lainnya, dari itu kerajaan Belanda menghadiahkan sebuah Bintang Emas kepada Tuan Syeikh. Namun demikian, penyematan bintang seperti itu bukanlah merupakan kebanggaan baginya, mungkin sebaliknya bahawa bisa saja ada maksud-maksud tertentu daripada pihak penjajah Belanda untuk memperalatkan beliau untuk kepentingan kaum penjajah yang sangat licik itu.

    Oleh karena itu, dengan tegas Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan berkata saat itu juga,
   Jika saya dipandang sebagai seseorang yang banyak jasa, maka sampaikanlah pesan (amanah) saya kepada Raja Belanda agar ia segera masuk Islam.''

    Tuan Guru menilai bahwa pemberian bintang itu merupakan pengingat yang diberikan oleh Allah kepadanya secara tidak langsung. Setelah kejadian itu, ia meminta pengikutnya lebih giat dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sedangkan bintang kehormatan itu pun kemudian diserahkan kepada Sultan Langkat untuk dikembalikan kepada Belanda.

   Tuan Guru wafat di usia 115, pada 21 Jumadil Awal 1345 H (27 Desember 1926), meninggalkan 4 istri, 26 anak, dan puluhan cucu. Hingga kini makamnya diziarahi ribuan umat, terutama setiap peringatan hari wafat (haul).

     Murid

    Murid Syeikh Abdul Wahhab Rokan sangat ramai: Di antara muridnya yang dianggap mursyid dan khalifah dan yang sangat giat menyebarkan Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Batu Pahat, Johor ialah Syeikh Umar bin Haji Muhammad al-Khalidi. Muridnya yang lain ialah Syeikh Muhammad Nur Sumatera. Murid Syeikh Muhammad Nur Sumatera ialah Haji Yahya Laksamana al-Khalidi an-Naqsyabandi, Rambah, Sumatera. Beliau ini adalah penyusun buku berjudul Risalah Thariqat Naqsyabandiyah Jalan Ma'rifah, cetakan pertama tahun 1976 di Malaysia, diterbitkan oleh pengarangnya sendiri.

     Karya

     Tidak banyak diketahui hasil penulisan Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan. Saat ini yang dapat dipelajari ialah:

1   . Munajat, merupakan kumpulan puji-pujian dan pelbagai doa.
2   . Syair Burung Garuda, merupakan pendidikan dan bimbingan remaja .
3   . Wasiat, merupakan pelajaran adab murid terhadap guru, akhlak, dan 41 jenis wasiat.

     Beberapa Petikan 41 wasiat yang dimaksudkan beliau diantaranya:

  Hendaklah kamu sekalian masyghul dengan menuntut ilmu Quran dan kitab kepada guru-guru yang mursyid. Dan hinakan diri kamu kepada guru kamu dan perbuat apa-apa yang disuruhnya. Jangan bertangguh. Dan banyak-banyak bersedekah kepadanya. Dan seolah-olah diri kamu itu hambanya.

    Dan jika sudah dapat ilmu itu maka hendaklah kamu ajarkan kepada anak cucu, kemudian kepada orang lain. Dan kasih sayang kamu akan muridmu seperti kasih sayang akan cucu kamu. Dan jangan kamu minta upah dan makan gaji sebab mengajar itu, tetapi minta upah dan gaji itu kepada Tuhan Esa lagi Kaya Murah, iaitu Allah Ta'ala.

  Apabila kamu sudah baligh hendaklah menerima Thariqat Syaziliyah atau Thariqat Naqsyabandiyah supaya sejalan kamu dengan aku. 

     Sesudah beliau wafat, banyak orang yang berziarah dan bernazar ke kuburnya. Konon pula, ada pengunjung yang ingin meminta anak laki-laki setelah ia mempunyai 8 anak perempuan. Tak lama kemudian ia akhirnya mendapatkan anak laki-laki. Banyak lagi cerita-cerita keramat di seputar sosok Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan dan kuburannya.

     Setahun sekali, bertepatan dengan hari wafat Tuanku Guru Abdul Wahab Rokan tanggal 27 Desember 1926, diadakan acara haul besar memperingati wafatnya Tuan Guru Pertama Ini.


Foto Bangunan Masjid Desa Babussalam/Besilam :



Foto Tuan Guru Masa Sekarang :

Pemikiran Sufistik Syekh Abdul Wahab Rokan
Syekh Abdul Wahab menulis Syair Sindiran dalam tiga bagian yang berbeda. Meskipun demikian tidak ada penjelasan mengapa hal ini dilakukakannya. Bagian pertama memuat lima puluh tiga (53) bait, bagian kedua memuat dua puluh lima (25) bait, sedangkan bagian ketiga berisi enam belas (16) bait yang setiap baitnya terdiri dari empat baris.

Menurut Syekh Abdul Wahab, Syair Sindiran ini ditulisnya ketika sedang berada di Malaysia, tepatnya di daerah Batu Pahat, Rantau Panjang.

Awal menyurat di Batu Pahat
Rantau Panjang namanya tempat
Dibuat syair akan nasehat
Hendaklah dibaca kuat-kuat 

Syair Sindiran ditulis untuk seluruh murid-muridnya sebagai sebuah nasehat berharga dari seorang guru. Syair ini ditulis dengan cara sindiran (kinayah) untuk menjadi ibarat (pelajaran) sehingga membuat orang merasa nyaman, tidak merasa tersinggung atau terlecehkan. Syair Sindiran ini dapat diselesaikan -diungkapkan oleh Syekh Abdul Wahab dengan kerendahan hati- hanya dengan pertolongan Allah yang Rahman. 

Faqir membuat akan sindiran
Dengan pertolongan Tuhan Rahman
Siapa-siapa membaca ingatlah tuan
Janganlah lalai sekalian ikhwan 

Nasehat dalam bentuk syair ini bukan sekedar untuk diketahui, namun diharapkan menjadi suatu amalan tersendiri sebagai bekal hidup di dunia yang menjadi tempat tanggal sementara. Pernyataan “hendaklah dibaca kuat-kuat” dan “janganlah lalai sekalian ikhwan” menunjukkan agar syair dibaca, dipahami, diperdengarkan (diajarkan) kepada orang lain serta tentu saja diamalkan. Namun demikian, Syekh Abdul Wahab menggarisbawahi bahwa jika nasehat yang diberikannya tidak semua bisa dilakukan, maka amalkan sebatas apa yang dapat diamalkan sesuai dengan kemampuan dan usaha yang telah diupayakan.

 Tamatlah sudah syair nasehat
Hendaklah ikhwan sekalian ingat 
Serta faham segala ibarat
Serta amalkan mana-mana yang dapat 

Syair Sindiran yang diawali dengan menyebut asma Allah seraya mengharap ampunan-Nya ditujukan sebagai nasehat mengingat mati (zikr al-maut), karena diri akan berpindah ke alam barzakh.

Dimulai syair dengan bismillah
Memohonkan ampun kepada Allah
Faqir mengarang berbuat lelah
Diperbuat sindiran ibarat berpindah 
Inilah sindiran lama bertambah
Mengarang syair ibarat berpindah
Syair ibarat yang amat indah
Ingatlah diri akan berpindah

Kematian, menurut Syekh Abdul Wahab sesungguhnya adalah hal yang pasti akan menjumpai siapapun yang hidup. Karenanya nasehat ini adalah salah satu cara untuk mengingatkan orang akan hidup yang tidak kekal dan pasti berakhir.

Wahai sekalian adik dan kakak 
Ingat-ingat janganlah tidak
Mati itu tak boleh tidak
Pikirlah tuan adik dan kakak 

Berbeda dengan Syair Sindiran, dalam 44 Wasiat, Syekh Abdul Wahab memberikan penekanan kepada anak cucunya untuk mengamalkan pesan dan nasehatnya. Ia mengingatkan : 

“Hendaklah simpan surat wasiat ini satu surat satu orang. Bacalah sejum’at sekali atau sebulan sekali, sekurang-kurangnya setahun sekali. Amalkan apa-apa yang tertulis di dalam wasiat ini supaya kamu dapat martabat yang tinggi dan kemuliaan yang besar dan kaya dunia akhirat”. 

Penekanan ini bahkan ia tegaskan lagi dengan menyatakan :

“Wahai anak cucuku, jangan sekali-kali engkau permudah dan jangan kamu ringan-ringankan wasiatku ini, karena wasiatku ini datang dari pada Allah dan Rasul dan daripada Guru-Guru yang pilihan, dan telah kuterima kebajikan wasiat ini”. 

Sekian Dari Saya Mohon Maaf Apabila Terdapat Kekurangan Dan Kekhilafan, Tak Ada Gading Yang Tak Retak Saya Hanyalah Manusia Biasa Penuh Dengan Kekurangan Saya Hanya Berharap Semoga Apa Yang Saya Sampaikan Melalui Laman Blog Ini Dapat Memberikan Sedikit Ilmu Pengetahuan, Semoga Bermanfaat Untuk Pembaca, Terima Kasih Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...